Pilih Menu

Banner Kop

Banner Kop

Slider

KOTA

SULTENG

POLITIK

HUKUM

SENGGANG

SULAWESI

EDUKASI

» » » Dari Secangkir Kopi (part 3 selesai)
«
Lanjut
Posting Lebih Baru
»
Sebelum
Posting Lama


Antara Toratima dan Likuifaksi.


Kopi ‘Aneh’ Pesaing Kopi Luwak.
Membumingnya kopi Luwak di bumi Nisantara bukan hanya karena rasa tapi lebih disebabkan anehnya sistem pengolahan biji kopi tersebut. Kopi Luwak merupakan biji kopi yang diambil dari sisa kotoran luwak/musang kelapa. Kopi tersebut memiliki rasa berbeda dengan kopi hasil petikan manusia dari pohonnya. Khas dari kopi luwak muncul setelah dimakan dan melewati saluran pencernaan luwak. Aneh bukan?!

Tapi ada yang lebih aneh lagi, yakni kopi Toratima. Kopi jenis ini hanya ada di Sulawesi Tengah. Kalau kopi Luwak diperoleh dari kotoran Luwak, namun kopi Toratima adalah hasil pungutan petani yang ditemukan berserakan di tanah. Konon, rasa dari kopi Toratima sangat khas, beda dengan kopi Luwak. Bahkan kopi Toratima diperkirakan menjadi pesaing pasar kopi Luwak. Wahhh…


Sebenarnya Toratima merupakan kopi jenis robusta. Kopi robusta adalah komoditas unggulan petani di Sigi, sebelum kakao.

Dilansir netralitas.com, tulisan Tenaga Ahli Direktorat PUED, menyebutkan bahwa kopi Toratima adalah hasil pungutan dari biji kopi yang dibuang oleh binatang pemakan kopi—setelah kulitnya disantap habis. Binatang itu adalah tikus, kelelawar, tupai/bajing, dan lainnya. Hewan-hewan ini hanya memakan kulit kopi yang rasanya manis dan merupakan kopi pilihan, sesuai seleranya. Lalu membuang bijinya di sembarang tempat.

Biji kopi bekas santapan binatang tesebut biasanya tersebar di tanah. Warna bijinya putih. Kemudian dikumpulkan dan diproses secara tradisional. Biji kopi dicuci bersih, lalu ditiriskan, disangrai, kemudian ditumbuk halus.

Desa Porelea di Kecamatan Pipikoro, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah adalah penghasil kopi Toratima. Dalam bahasa setempat, Toratima artinya “kopi yang dipungut”. Penamaan ini merujuk pada cara pengumpulannya. Biji-biji kopi kering ini dikumpulkan dari atas tanah, baik di kebun kopi maupun hutan.

Biji-biji kopi tersebut memang pilihan. Secara alami, mamalia hutan, seperti kelelawar, tupai maupun tangali (sejenis luwak) memilih biji kopi berkualitas, sesuai seleranya. Jadi, dapat dipastikan, biji-biji kopi itu istimewa. Dari setiap rumpun kopi, hanya kopi terbaik yang diambil untuk dimakan kulitnya. Inilah yang menjadikan Toratima menjadi kopi yang sangat spesial, dengan aroma dan rasa yang khas.

Kopi merupakan komoditas tua di Porelea. Namun, terbatasnya akses jalan turut menghambat dikenalnya kopi ini di daerah lain. Butuh waktu sekitar 4 jam dari Kota Palu baru mencapai desa ini. Dan sampai ke Kecamatan Pipikoro, hanya bisa menggunakan kendaraan roda dua.

Berbagai keunggulan komperatif Kopi Pipikoro, patut dipertimbangkan menjadi komoditas unggulan. Kesiapan dan persiapan produk unggulan akan seiring dan sejalan dengan program prioritas Pemerintah Daerah Kabupaten Sigi 2016-2021 yang mendorong adanya ODOP (one distric One Product) melalui Industrialisasi dan UMKM.

Festival Kopi Pipikoro yang dilaksanakan oleh Karsa Institute, Pemerintah Kecamatan Pipikoro, dan Pemerintah Desa se-Kecamatan Pipikoro merupakan starting point untuk memulai revitalisasi kopi, baik dalam kontek usaha budidaya perkebunan, maupun industri di Pipikoro. Festival ini merupakan event pertama, terkait komoditas di Pipikoro, bahkan Kabupaten Sigi.

Potensi
Kecamatan Pipikoro yang luasnya sekitar 956,13 km2 merupakan salah satu wilayah terisolir di Kabupaten Sigi. Padahal posisi geografis wilayah ini sangat strategis, karena menjadi pembatas Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah dengan dua provinsi sekaligus, yaitu Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat.
Pipikoro merupakan penghasil kopi terbesar di Kabupaten Sigi. Menurut statistik ekonomi Kabupaten Sigi tahun 2016, jumlah produksi kopi Pipikoro mencapai 152 ton pertahun, dari luas areal perkebunan kopi 639 Ha. Dengan tingkat produktivitas 420 Kg per hektar per tahun. Produktivitas perkebunan kopi Pipikoro paling tinggi di kabupaten Sigi. Kecamatan Lindu hanya mampu berproduksi 70 Kg per hektar pertahun, begitu juga Kecamatan Kulawi yang hanya 66 Kg per tahun. (statisitik ekonomi kab. Sigi 2016).

Dipamerkan pada 2016
Dalam pameran potensi desa tingkat Provinsi Sulawesi Tengah yang digelar di Desa Padende Kecamatan Marawola, Kabupaten Sigi, 2016 lalu stan Kecamatan Pipikoro memamerkan potensi unggulannya yakni Kopi Toratima.

“Kopi Toratima adalah hasil produk Kecamatan Pipikoro asli, kopi ini berasal dari Kopi Robusta murni berkualitas terbaik, karena memiliki aroma dan citarasa yang lezat,” kata Camat Pipikoro Smar P Tapue, 20 Mei 2016 seperti dilansir mercusuarnews.com.

Katanya, kopi Toratima merupakan kopi organik yang dihasilkan melalui sistem pertanian ramah lingkungan yang secara turun temurun telah dipraktekkan para petani tradisional di dataran tinggi Pipikoro.

“Kopi Toratima dibuat hanya dari biji-biji kopi pilihan, yang dipungut dan dikumpulkan (tima) dari sisa pemisahan kulit dan daging buah kopi yang di makan oleh binatang mamalia hutan seperti kelelawar dan tupai,” jelasnya.

Kata dia, secara alamiah, binatang mamalia ini hanya memilih buah kopi tertentu, buah kopi terbaik dari setiap tandan buah kopi. Binatang mamalia ini hanya memakan daging buah kopi, memisahkan biji kopi terbaik untuk dipungut menjadi kopi Toratima.

Menurut Smar, kopi Toratima merupakan bagian dari tradisi untuk menjaga persaudaraan, tradisi untuk menikmati waktu-waktu istimewa dan tradisi untuk menikmati kemurnian citarasa. *


Pengolahan Kopi ‘Pungut’ Toratima
Proses pengolahan kopi Toratima dilakukan secara tradisional. Pengolahan manual tersebut dianjurkan demi mempertahankan rasa dan aroma yang khas.

Sebelum melakukan pengolahan, petani lebih dulu mencari dan memungut biji kopi yang terselip di balik dedaunan. Biji-biji kopi itu dicari di bawah pohon kopi hingga semak. Hanya biji kopi buangan alias sisa makanan tupai, tikus, kelelawar dan lainnya yang dipungut.

Setelah dikumpulkan, biji kopi tersebut dicuci bersih, ditiriskan kemudian disangrai. Setelah diperkirakan matang biji kopi kemudian dituang dalam lesung, selanjutnya ditumbuk gingga halus.

Menurut masyarakat petani, bila proses penghalusan menggunakan mesin (penggiling) sangat tidak baik untuk kopi Toratima. Katanya menggiling dengan mesin justru menghilangkan aroma khas Toratima.

Usai ditumbuk, hasilnya yang halus kemudian disaring memakai ayakan. Hasil ayakan yang halus itu selanjutnya siap untuk diseduh. Penyajian kopi Toratima tergantung selera penikmatnya, ada yang menambahkan gula pasir, ada pula yang tidak.

Di Kecamatan Pipikoro, kopi Toratima sering disajikan untuk tamu, acara adat hingga kegiatan besar lainnya. Di Kabupaten Sigi tak sedikit masyarakatnya petaninya ‘kecanduan’ kopi Toratima. Warga yang sudah ‘terpelet’ rasa dan aroma Toratima menjadikan kopi tersebut sebagai sajian wajib setiap hari. Saat pagi, siang atau sore hari mereka harus menyeruput Toratima.

Tidak hanya rasa, aroma khas kopi Toratima juga bikin ngiler. Dalam radius tertentu, aroma kopi Toratima yang sedang disajikan atau pun diolah jelas tercium. Bagi yang pernah menyeruputnya, bisa mengetahui kalau di sekitarnya ada yang sedang menyajikan atau mengolah kopi Toratima.

Binatang Hama jadi Sahabat
Sebuah proses mata rantai. Bukan secara tidak langsung, proses antara manusia dan hewan yang saling membutuhkan pun terjadi dalam sistim perolehan kopi Toratima. Dimana binatang jenis pemakan daging buah kopi akan terlindungi bahkan perlu untuk dilestarikan. Sebaliknya, manusia, khususnya petani kopi membutuhkan keberadaan hewan liar sejenis tikus, tupai, kelelawar dan lainnya.

Binatang-binatang hama yang musuh besar petani kini justru menjadi binatang berjasa. Keberadaan hewan tersebut diangkat sebagai sahabat petani. Betapa tidak, berkat hewan liar itu tercipta kopi Toratima.

Berbeda dengan kopi Luwak. Pada 15 September 2013, bbc.com melansir bahwa Kopi Luwak Sebagai Kekejaman Hewan. Konon, produksi kopi luwak mencerminkan kekejaman atas hewan, seperti diungkapkan oleh penyelidikan BBC di kawasan Sumatra.

Kopi yang bercampur dengan kotoran musang itu merupakan kopi berkualitas tinggi dan diekspor ke pasar-pasar internasional dengan harga mahal.

Popularitas kopi ini antara lain meningkat setelah masuk program TV terkenal di Amerika Serikat, Oprah Winfrey, dan dalam film The Bucket List.

Di London, misalnya, harga secangkir kopi luwak bisa mencapai £60 atau sekitar Rp900 ribu lebih untuk satu cangkir.

Namun penyelidikan yang dilakukan wartawan BBC, Guy Lynn dan Chris Rogers, memperlihatkan bahwa musang-musang yang makan biji kopi tersebut dikurung dalam kandang.

Dan para ahli yakin bahwa kopi luwak yang dijual di London diproduksi dari musang kandang walau dipromosikan sebagai kopi luwak yang berasal dari musang liar.

Gempa dan Likuifaksi, Semoga Bukan Kendala
Sudah hampir dua tahun pasca festival kreatif kopi Sulawesi Tengah, diharap telah memberi dampak positif bagi brand kopi lokal. Meski baru-baru ini terjadi peristiwa alam dahsyat yakni gempa bumi merusak yang memicu likuifaksi di kabupaten kopi andalan yaitu Kabupaten Sigi. Peristiwa yang menelan ribuan nyawa manusia itu diharapkan tidak memicu penurunan brand bahkan semangat ‘pemikul’ brand kopi Sulteng.

Bencana alam yang baru dua bulan berlalu itu semoga bukan sebuah aral yang berujung pada lenyapnya Toratima yang sudah dihayalkan sebagai pembawa Provinsi Sulteng, secara khusus Kabupaten Sigi  ke level teratas di dunia kopi.

Semoga pula segala yang sudah direncanakan melalui festival kreatif kopi Sulawesi Tengah dalam ‘menguak identitas kopi lokal’ tak turut lenyap ‘dalam likuifaksi’. Sehingga sebuah harapan tersohornya Sulteng melalui kopi, secara khusus Toratima jadi nyata. Semoga!!! ***

Tentang editor sultengaktual

Masukkan riwayat atau sejarah website atau media ini, atau keterangan media ini-----
«
Lanjut
Posting Lebih Baru
»
Sebelum
Posting Lama