Pilih Menu

Banner Kop

Banner Kop

Slider

KOTA

SULTENG

POLITIK

HUKUM

SENGGANG

SULAWESI

EDUKASI

» » » » » » SALING KLAIM, ANDI SIKATI DAN RENDY LAMADJIDO BERSETERU
«
Lanjut
Posting Lebih Baru
»
Sebelum
Posting Lama

PALU - Polemik Yayasan Pendidikan Panca Bhakti (YPPB) Sulawesi Tengah rupanya hingga kini belum berakhir, kedua belah pihak antara Andi Sikati Sutan dan Rendy Lamadjido masih berseteru.
Kedua belah pihak ini tidak ada yang mengala dan salaing klaim sebagai pemilik YPPB yang di dalamnya ada dua sekolah tinggi yakni Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) l dan Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan politik (STISIPOL) Panca Bhakti Palu.
Andi Sikati (Berjilbab) Saat memberikan Keterangan Kepada Wartawan. ( Ridwan )
Dimana menurut penuturan Andi Sikati yang mengaku pemilik adalah suaminya yakni Moh. Jusuf Padong. Berdasarkan sejarah perjalanan yayasan tersebut yang di prakarsai Moh. Yusuf Paldong (Suami Andi Sikati) menyatakan, yayasan yang menaungi SITE dan STISIPOL Panca Bhakti Palu di mulai sejak tahun 1969. Yang saat itu, STIE dan STISIPOL masih bernama Akademi Administrasi Negara (AAN) kelas jauh dari AAN Makassar.
Seiring berjalannya waktu tahun 1971 kata Sikati, di tahun itu muncul kebijakan pemerintah pusat untuk menutup kelas jauh. Sehingga, untuk menyelamatkan studi Mahasiswa AAN Negeri kelas Jauh Makassar dirubah menjadi Yayasan Akademik Administrasi Negara.
Sehingga dengan begitu, pihak akademik melakukan upaya pelegalan yayasan tersebut lewat koordinasi dengan Pemda setempat serta tokoh masyarakat. Saat itu pemerintahan masih melekat di Donggala, yang kala itu Bupati Donggala masih di jabat Aziz Lamadjido, yang juga selaku notaris pengganti, sebab saat itu belum ada notaris di Palu.
Disamping itu juga, Abdul Aziz Lamadjido mendapat kehormatan di angkat sebagai ketua yayasan AAN. sementara, Jusuf Padong dan beberapa dosen serta pejabat di lingkup  kampus AAN saat itu terang Sikati, tidak di masukan dalam akte yayasan. Karena berdasarkan aturan bahwa dosen dan pegurus kampus, tidak boleh terlibat dalam kepengurusan yayasan untuk mencegah konflik kepentingan.
"Jadi, suami saya (Jusuf Padong) serta beberapa dosen dan pejabat lainnya, tidak di libatkan dalam kepengurusan yayasan. Hal itu berdasarkan aturan yang berlaku pada tahun 1971," beber Sikati.
Di kemukakannya, suaminya Jusuf padong dan beberapa dosen sebagai pendiri yayasan AAN yang sekarang menjadi STIE dan STISIPOL, dan pendirian yayasan serta bangunan sekolah tinggi itu di atas lahanya sendiri.
"Pak Aziz Lamadjido saat itu hanya di angkat sebagai ketua yayasan, dan bukan pemilik yayasan," tegas Sikati berdasarkan alur Sejarah pendiran yayasan.
Pada tahun 2004 Abdul Aziz Lamadjido ketua yayasan saat itu, mengundang Jusuf Padong dalam rangka membicarakan kelengkapan pengurus yayasan. Kemudian cerita Sikati, Abdul Azizi Lamadjido meminta suaminya (Jusuf Padong) untuk memperbaiki dan menyempurnakan kepengurusan yayasan.
"Saat itu pak Abdul Aziz Lamadjido menunjuk suami saya menjadi wakil ketua yayasan mendampingi beliau, namu suami saya menolak, dengan pertimbangan suami saya tidak bisa merangkap jabatan karena suami saya sebagai ketua STIE saat litu," tutur Sikati.
Lanjut Dia, sebagai penggati Jusuf Padong yang di porsikam menjadi wakil Ketilua yayasan melalui penunjukan Abdul Azizi, akhirnya Andi Sikati Suktan menduduki posisi itu.
“Dalam masalah ini saya melakukan perjuangan dan melawannya sendiri, tanpa ada bantuan dari pemerintah sedikitpun padahal tidak sedikit alumni alumni STIE yang telah bekerja dan berbakti di berbagai instansi baik pemerintah maupun swasta," keluhnya.
Meski polemik ini masih terus berlanjut, Sikati menyatakan pihaknya saat ini tengah menempuh proses di PTUN sebagai bentuk gugatanya kepada Rendi Lamadjido, dalam hal status kepemilikan STIE Panca Bhakti Abadi yang sudah dibangun dan di besarkannya selama 45 tahun.
Meskipun klaim kepemilikan STIE yang di lakukan anggota DPR-RI itu kepadanya, Sikati beranggapan hal itu tidak mendasar, karena bukti sejarah tidak ada meneyebutkan Ayah Rendi Lamadjido sebagai pemilik yayasan.
Dipihak lain, Rendi Lamadjido juga melakukan gugatan yang sama. Dimana kata Sikati Pengadilan Negeri Kelas 1A Palu dalam putusannya menganggap bahwa gugatan Rendi Lamadjido yang dikeluarkan oleh Mahkamah Agung (MA) bersifat declaratior dan perintahnya bersifat negatif.
Dengan demikian PN Kelas 1A Palu tidak dapat melaksanakan putusan Mahkamah Agung RI Nomor : 1873 K/PDT/2012 Jo nomor 47/PDT/2011/PT.Palu Jo nomor : 77/Pdt.G/2010 PN.PL, oleh karenanya permohonan pemohon tersebut haruslah dinyatakan ditolak.
Sebelumnya Rendy Lamadjido yang menyatakan diri sebagai pemilik sah Yayasan Panca Bhakti Palu meminta Andi Sikati agar segera angkat kaki dan  menyerahkan seluruh asset yayasan kepadanya.
"Kami sebagai manusia yang masih memiliki rasa kemanusiaan, meminta agar Andi Sikati Sultan segera menyerahkan aset bergerak dan tidak bergerak kepada kami selaku pemilik yayasan yang sah," pinta Rendi.
Permintaan politisi asal PDIP itu juga didasarkan atas putusan Pengadilan Tinggi Sulawesi Tengah tentang penetapan AAN nomor: PDT/P011/PT.Palu Juga dikuatkan dengan putusan Mahkamah Agung Nomor 1873 K/Pdt/2012 yang memerintahkan Pengadilan Negeri Palu untuk melakukan eksekusi terhadap Andi Sikati Sultan.
"MA telah menolak permohonan kasasi Andi Sikati Sultan dan Natsir Lambogo. Dengan demikian Andi Sikati Sultan tidak berhak untuk menahan serta menguasai aset YPPB yang didalamnya terdapat dua perguruan tinggi yaitu STIE Panca Bhakti dan STISIPOL," tutur Rendi. WN

Tentang editor sultengaktual

Masukkan riwayat atau sejarah website atau media ini, atau keterangan media ini-----
«
Lanjut
Posting Lebih Baru
»
Sebelum
Posting Lama