Pilih Menu

Banner Kop

Banner Kop

Slider

KOTA

SULTENG

POLITIK

HUKUM

SULAWESI

EDUKASI

» » » » » » Donggala KANAMAVALI, Desa Cerdas Untuk Indonesia pintar
«
Lanjut
Posting Lebih Baru
»
Sebelum
Posting Lama


Melalui Peraturan Bupati Donggala provinsi Sulawesi Tengah No 70 Tahun 2015 tentang Pengelolaan Pendidikan Dalam program Donggala KANAMAVALI, merupakan turunan implementasi atas program kerja pemerintah pusat menuju Indonesia Pintar.
Program Desa Cerdas adalah program yang berisi sejumlah kegiatan untuk mempercepat capaian kinerja dinas pendidikan.
Tim Pendidikan Kabupaten Donggala, melakukan Pengenalan bacaan .
Indikator Desa cerdas adalah kriteria baku yang menjadi acuan penilaian capaian kinerja dan sebagai dasar untuk menentukan derajat atau tingkatan dalam menentukan kategori desa cerdas.
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Komitmen Pemerintah Kabupaten Donggala untuk meraih predikat Donggala cerdas bukanlah impian belaka atau sebatas wacana. Program Donggala Kanamavali akan menjadi entry point dalam  mewujudkan kebijakan program Ngapaku Kanamavali Untuk Donggala Cerdas  dan   Mencerdaskan Desa untuk Indonesia. Donggala Kanamavali atau  dalam bahasa kaili Kanamavali  yang artinya cerdas, merupakan implementasi dari Program Indonesia Pintar (PIP) Pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla. 
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Donggala Rustam Efendy, SPd. SH. M.AP,  menuturkan,  program Donggala Kanamavali  ini  meliputi   Gerakan Satu Desa Satu Pendidikan Usia Dini (GERSADESAPA), Gerakan Tuntas Buta Aksara (GERTAKSARA), Gerakan Wajib Belajar Pendidikan Dasar dan Menegah (GEWAJAR DIKDASMEN), Gerakan Wajib Belajar Pendidikan Kesetaraan (GEWAJAR SETARA), Gerakan Ayo Kursus (GERAYOKUR), GERAKAN Sekolah Cerdas (GERSEKDAS), Gerakan Donggala Berimtaq (GDB), Gerakan Donggala Membaca (GDM), Gerakan Donggala Anti Narkoba (GDAN), Gerakan Donggala Cinta Damai (GDCD), Gerakan Donggala Rajin Belajar (GDRB) , Gerakan Donggala Suka Pramuka (GDSP) dan Gerakan Donggala Ber-internet (GEGALANET).  “Intinya program gerakan desa cerdas ini didesain untuk  menjadi sekolah kepemimpinan bagi para pemuda penggerak desa,” katanya.
Program Donggala Kanamavali  ini bersifat implementatif, terukur, melibatkan semua kelompok kepentingan (Stakeholder), memberdayakan potensi daerah dan berbasis kebutuhan serta menggunakan kata awalan “Gerakan”.  “Gerakan dalam artian dikerjakan bersama-sama dengan daya dorong yang kuat, tekat dan komitmen yang sungguh-sungguh, tindakan nyata dan produktif serta semangat pantang menyerah,” cetusnya.
Untuk mewujudkan Donggala Kanamavali  tambah  Rustam, ada beberapa tahapan harus dilalui seperti program desa cerdas. Dimana seluruh target capaian kinerja pendidikan (AMH, MYS dan EYS) terlihat di program desa cerdas dengan indikator yakni  layanan Pendidikan PAUD  (anak usia 0-6 tahun terlayani pendidikannya), tuntas buta aksara  (AMH= 100%), semua warga yang belum memperoleh ijazah dari lembaga pendidikan formal telah mengikuti pendidikan kesetaraan, gerakan Donggala Beriman dan Bertaqwa (GDB) berjalan secara efektif. Kemudian semua warga masyarakat bebas NARKOBA, program Gerakan Donggala Membaca (GDM) bejalan efektif, komitmen pemerintah desa pemberlakuan minimal 2 jam belajar setiap malam, semua sekolah  memenuhi Standar Pelayanan Minimal (SPM). Tidak hanya itu, indikator lainnya seperti Gerakan Pramuka berjalan secara efektif, bebas perkelaian pelajar/siswa, sebagian besar warga desa memiliki kemampuan untuk mengakses informasi melalui internet,  sekolah menerapkan pembelajaran GASING untuk mata pelajaran matematika dan sains serta anak remaja mendapat pelatihan yang berorientasi kecakapan  hidup (life skill).  
Dikatakan Rustam  program desa cerdas ini berjenjang mulai dari desa cerdas pratama, desa cerdas madya serta desa cerdas utama. Untuk desa cerdas pratama pertama melakukan pendataan jumlah anak usia 0 – 6 tahun, kemudian menyediakan lembaga PAUD (KB, TK, TB), Bunda PAUD desa terlibat aktif dalam kegiatan, guru PAUD menerima penghasilan yang bersumber dari ADD serta membuat peraturan desa yang berkaitan dengan PAUD.
Sementara yang terkait dengan penuntasan buta aksara beberapa hal mendasar harus dilakukan mulai dari pendataan warga yang buta aksara, menyediakan PKBM serta menyiapkan insentif  tutor yang bersumber dari ADD. Termasuk juga didalamnya mendata warga yang membutuhkan layanan paket A, paket B dan paket C serta melakukan KBM di PKBM untuk melayani paket A, paket B dan paket C, karena semua warga yang belum memperoleh ijazah dari lembaga pendidikan formal harus mengikuti pendidikan kesetaraan.
Untuk mewujudkan Gerakan Donggala Beriman dan Bertaqwa (GDB)  agar bisa berjalan efektif kata Rustam, semua anak usia sekolah harus dapat membaca Al-Qur’an (Islam), kemudian  ada  taman bacaan Al-Qur’an (TPA),  diwajibkan anak usia sekolah melaksanakan shalat 5 waktu serta 75 persen anak usia sekolah mengikuti kegiatan keagamaan yang dilaksanakan di desanya.
Kemudian untuk mewujudkan program desa bebas narkoba, setiap desa harus memprogramkan komitmen ini, kemudian melakukan  tes narkoba dari BNN atau instansi terkait. Namun yang paling mendasar membuat surat pernyataan di atas materai yang ditandatangani oleh Kepala Desa dan Ketua BPD tentang  kesediaan mewujudkan desa bebas Narkoba.  Begitupun dengan program Gerakan Donggala Membaca (GDM) bisa berjalan  efektif manakala memiliki Taman Bacaan Masyarakat (TBM), sebab ini akan meningkatkan minat membaca  tidak hanya terhadap siswa juga bagi masyarakat. ***

Tentang editor sultengaktual

Masukkan riwayat atau sejarah website atau media ini, atau keterangan media ini-----
«
Lanjut
Posting Lebih Baru
»
Sebelum
Posting Lama