Pilih Menu

Banner Kop

Banner Kop

Slider

KOTA

SULTENG

POLITIK

HUKUM

SENGGANG

SULAWESI

EDUKASI

» » » » » Dua Peserta Diisukan Tewas Tenggelam
«
Lanjut
Posting Lebih Baru
»
Sebelum
Posting Lama

Tim SAR, TNI AL dan Pol Air mengawal bupati Parimo saat membawa bendera estafet di wilayah perairan Sail Tomini. Foto : Dadank

Renang Terpanjang Pecahkan Rekor Dunia di Parimo

PARIMO- Renang estafet sepanjang 472 kilometer di Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), dikabarkan menelan korban jiwa. Dari sekitar 10 ribu peserta renang yang menyusuri garis pantai Teluk Tomini di Kabupaten Parimo, dua orang diisukan tewas tenggelam.
Menanggapi hal tersebut, ketua panitia pelaksana, Arman Maulana, tidak membenarkan isu tersebut. Arman menjelaskan, memang ada yang dikabarkan tewas tenggelam pada Minggu 16 Agustus 2015. Namun yang tenggelam tersebut bukan peserta renang, tapi seorang pelajar di Kecamatan Kasimbar yang sedang mandi laut.
“Hari Minggu 16 Agustus, seorang pelajar di Kasimbar hilang saat mandi laut. Dan korban ditemukan oleh Basarnas pada Senin 17 Agustus. Korban ditemukan Basarnas yang saat itu sedang mengawal peserta renang,” katanya.
Menurutnya, adanya isu menyebutkan bahwa korban tenggelam adalah peserta renang, lantaran saat tenggelamnya korban, bertepatan dengan pelaksanaan renang terpanjang di Teluk Tomini.
“Lokasi tenggalamnya korban itu di Kecamatan Kasimbar. Sedangkan saat peristiwa tenggalmnya korban, peserta renang estafet masih berada di wilayah utara Kecamatan Kasimbar,” ujar Arman saat menyambut peserta renang di lokasi Sail Tomini, dusun Kayubura, Selasa (18/8) .
Terkait meninggalnya warga Desa Ambesia, Arman juga menjelaskan bahwa warga tersebut meninggal lantaran penyakit, bukan saat mengikuti renang. Memang, kata Arman, warga Ambesia yang meninggal itu sempat mendaftar sebagai peserta renang, namun tima medis dan pemerintah tidak mengizinkan lantaran ia (korban meninggal) mengalami gangguan kesehatan.
“Warga Ambesia yang meninggal itu, tidak meninggal di laut atau saat mengikuti renang,” kata Arman.
Arman memastikan, dalam pelaksanaan renang terpanjang itu, tidak akan ada korban tenggelam, sebab peserta renang yang membawa bendera merah putih mendapat pengawalan ketat.
“Setiap peserta yang membawa bendera, diapit perahu nelayan dan perahu karet, serta mendapat pengawasan ketat dari TNI AL, Basarnas dan Polairud yang masing-masing dengan kapal dan speed boat-nya. Jadi sangat tidak mungkin ada korban tenggelam,” katanya.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Parimo itu menyebutkan, sebelum dilakukan pelepasan pada Kamis 13 Agustus lalu, setiap orang yang akan mengikuti renang, lebih dulu melaui proses skrining atau penapisan dengan maksud untuk mengetahui apakah calon perenang memiliki penyakit tertentu atau tidak. Dan tes medis dilakukan oleh dokter-dokter Puskesmas yang ditunjuk langsung kepala Dinas Kesehatan (Dinkes).
Menyangkut adanya sejumlah titik  dianggap rawan sehingga berbahaya bagi perenang, Arman tidak penampik. Namun demikian pihaknya mengaku telah menyiapkan langka antisipasi.
"Khusus di medan yang dianggap berbahaya, pesertanya dilakukan oleh yang ahli bahkan melibatkan anggota Danlanal dan Pol Air," sebut Arman.
Pantauan wartawan, tepat pukul 12.00 Wita pada Selasa (18/8) kemarin, bendera estafet yang dibawa perenang sudah melewati Dusun Kayubura (lokasi perayaan acara puncak Sail Tomini). Meski panitia memastikan bahwa tidak ada korban tenggelam dalam kegiatan tersebut, namun tak sedikit peserta yang teler akibat mengalami kram atau nyeri (kontraksi otot di kaki, khususnya betis), atau biasa disebut tikus-tikus.
Diperkirakan, bendera estafet yang dibawa perenang akan mencapai titik finis di perbatasan Kabupaten Parimo dan Kabupaten Poso, pada hari ini (Rabu 14/8). dd

Panitia : Ini Renang Estafet, Bukan Renang Massal

Renang terpanjang sepanjang 472 kilometer demi terdaftar di Museum Rekor Indonesia (Muri) bahkan memcahkan rekor dunia, digelar sebagai kegiatan tambahan demi mensukseskan Sail Tomini. Hal itu dikatakan sekretaris panitia, Alwi Musa.
Alwi menjelaskan, renang tersebut menelan sedikitnya 10 ribu peserta. Dari 10 ribu peserta itu menurut Alwi, dilepas secara perorangan dan bergantian, dengan membawa tongkat yang diikatkan bendera merah putih.
“Perlu diketahui bahwa ini adalah renang estafet yang membawa satu tongkat diikatkan bendera merah putih. Dengan jarak tertentu, atau di batas kemampuan peserta yang membawa bendera itu, dilanjutkan lagi dengan satu orang peserta lainnya. Begitu dan seterusnya hingga mencapai garis finis. Jadi, renangnya dilakukan secara bergantian, bukan beramai-ramai,” jelasnya pada Selasa (18/8).
Pernyataan sekretaris panitia ini menyusul berkembanganya kabar yang menyebutkan bahwa renang tersebut adalah renang massal, yang dilakukan 10 ribu peserta sekaligus.
Renang estafet terpanjang menyusuri garis pantai Kabupaten Parimo itu, adalah renanang yang memiliki waktu terlama yakni ditarget sekitar 10 hari, dengan jarak tempuh 472 kilometer serta melibatkan sedikitnya 10 ribu perenang. dd

Tentang editor sultengaktual

Masukkan riwayat atau sejarah website atau media ini, atau keterangan media ini-----
«
Lanjut
Posting Lebih Baru
»
Sebelum
Posting Lama