Pilih Menu

Banner Kop

Banner Kop

Slider

KOTA

SULTENG

POLITIK

HUKUM

SENGGANG

SULAWESI

EDUKASI

» » » Air Baku Poboya Terindikasi Tercemar
«
Lanjut
Posting Lebih Baru
»
Sebelum
Posting Lama

PALU - Dari hasil penelitian yang dilakukan Dinas Kesehatan (Dinkes) Palu 2104 hingga 2015 lalu, menemukan adanya indikasi air baku di wilayah Poboya Kecamatan Mantikulore tercemat oleh limbah mercure. Limbah itu tidak lain, berasal dari aktivitas tambang emas.

Hasil peneritian menyebutkan, saat itu kandungan mercure di air baku Poboya telah melebihi ambang batas dengan angka 0,001 persen, yang artinya air tersebut tidak layak untuk dikonsumsi.
Kadinkes Kota Palu, dr. Royke Abraham mengatakan, aktivitas tambang emas poboya perlu diwaspadai. Pasalnya, resiko dampak yang ditimbulkan bukan hanya warga Poboya mengalami, namun hal ini bisa merembet luas hingga kedataran lembah Palu.

Sebab, zat mercure bukan saja terbawa arus air tetapi juga dapat memuai keudara sehingga rentan terhirup oleh khalayak luas. Royke menyebut, pihaknya saat itu melakukan penelitian sebanyak dua kali, di tujuh titik potensial sungai Pondo Poboya.
“Selanjutnya kami akan mengusulkan uji laboratorium enam bulan sekali, hal ini guna memastikan air baku Poboya apakah kandungan mercure masih melebihi ambang batas atau sebaliknya,” terang Royke baru-baru ini.  

Selain melakukan uji labotratorium, pihaknya juga akan melakukan sosialisasi kepada warga setempat dan sekitarnya terkait hasil uji lab terhadap pencemaran lingkungan di kawasan tambang emas Poboya.

  Adanya indikasi pencemaran lingkungan, maka pihak dinkes saat itu merekomendasikan kepada penambang agar memperbaiki kembali sistem pembuangan limbah mercure atau pun siandida, sebab kedua zat itu sangat berbahaya bagi kesehatan. 

Lebih lanjut dirinya menjelaskan, penelitian kedua dilakukan pihaknya pada 2o16 lalu. Dimana, penelitian dilakukan megambil sampel air minum warga sekitar tambang, bahkan hingga radius terjauh dari lokasi tambang emas Poboya.

“Sampelnya kami ambil kemudian diteliti pasca penelitian pertama, ternyata ada perubahan secara signifikan. Ditemukan bahwa kandungan mercure sudah dibawah ambang batas dan layak konsumsi,” bebernya.

Meski begitu, dirinya tetap menghimbau kepada masyarakat agar waspada, bukan berarti hasil penelitian itu tidak akan berubah diwaktu berikutnya, bisa saja kandungan mercure saat ini dibawah ambang batas, dan bisa saja naik dan melebihi ambang batas.

Urai dia, dari data yang dimiliki pihaknya, kebiasaan warga Kota Palu mengkonsumsi air sebagai kebutuhan hidup di temukan 70 persen mengkonsumsi air isi ulang, 20 persen konsumsi air sumur (air masak), 1 persern mengunakan air PDAM, dan sisanya mengkonsumsi air kemasan.

“Zat mercure tidak bisa dihancurkan oleh alam atau pun organ tubuh manusia, sehingga mercure menyerang tubuh manusia dimana daya tahan tubuh seseorang mulai lemah, dan sifatnya jangka panjang,” tutupnya.WN


Tentang editor sultengaktual

Masukkan riwayat atau sejarah website atau media ini, atau keterangan media ini-----
«
Lanjut
Posting Lebih Baru
»
Sebelum
Posting Lama