Pilih Menu

Banner Kop

Banner Kop

Slider

KOTA

SULTENG

POLITIK

HUKUM

SENGGANG

SULAWESI

EDUKASI

» » » » Proyek kebun Kopi ‘Menguap’
«
Lanjut
Posting Lebih Baru
»
Sebelum
Posting Lama


Pemasangan alat pemanah pasir, geogrit dan geotax di kilometer 14 Nupabomba. Foto: Randhy Budiman

Rudy Chandra ‘Tantang’ Kejaksaan

Palu– Proyek Rekontruksi Penanganan Lereng Nupabomba – Kebun kopi – Toboli II menuai sorotan, pasalnya proyek yang menguatkan tanah tebing yang sering terjadi longsor itu diduga akan mengalami keterlambatan.
Proyek berbandrol Rp 51.374.843.000 yang dikerjakan oleh PT Sapta Unggul Jo PT Sujainco mengerjakan pemasangan alat penahan pasir pada tebingan yang di kerjakan dengan menggunakan Geogrid dan Geotax. Proses pemasangan alat Geogrid ini dilakukan dengan cara memakai Pin dengan cara di bor. Selain pemasangan alat penahan pasir ini, pelaksana juga melakukan pemasangan saluran air dari pracetak serta melakukan susunan batu di sebelah saluran air yang dipasang. Bukan itu saja, pekerjaan dilapangan juga terlihat pembuatan box culvert serta plat deucker.
Pemerhati Pembangunan Infrastruktur, Eko Arianto selaku Direktur LSM Tegak Sulteng mengatakan bahwa proyek itu akan terlambat dikarenakan waktu sudah semakin dekat dengan batasan kontraknya. Dan bukan itu saja, selalu paket paket yang dikerjakan di ruas kebun kopi itu ‘sarat’ terlambat. Seharusnya ini menjadi acuan atau referensi dalam proses lelang, apa lagi pemenang pemenang yang ada diruas kebun kopi itu sepertinya itu itu saja, urainya.
Selain itu, dengan melakukan rekontruksi atas lereng yang dimaksud dari terlaksananya paket pekerjaan ini dengan memasang Geogrid dan Geotax yakni sebagai alat penahan pasir apakah mampu memberikan solusi secara teknis terhadap volume pasir atau tanah jika sewaktu waktu terjadi gerusan tanah akibat hujan, kata Eko dengan penuh tanya.
Moh Ridwan, ST selaku Pejabat pembuat komitmen (PPK) ketika ditemui diruangannya belum lama ini membantah jika proyek itu akan terlambat. “ masih ada sisa waktu pelaksanaan, jadi kami selaku pengguna yakin akan tepat waktu”, kata Ridwan.
Dan jika memang ada keterlambatan, kami akan menerapkan sistem denda maksimal atas pekerjaan dari yang dikontrakkan sesuai aturan yang ada. Keterlambatan itu hal biasa dan ada aturan yang mengikat, dalam keterlambatan tidak ada menimbulkan kerugian uang negara, jadi apa yang harus di khawatirkan, sambil berkata, “saya juga sudah tidak mau lagi untuk menjadi PPK ditahun berikut, kalau bisa minta Pensiun dini Saja”, jelas Ridwan diruangan Kantornya.
Menyikapi pekerjaan pekerjaan yang selalu dimenangi oleh PT Sapta unggul, Ridwan hanya mengatakan bahwa itu ranah pekerjaan pokja pada proses pelelangan, tetapi kami selaku pengguna juga melihat hasil pekerjaan pak rudy sangat memuaskan, Jelasnya.
Pihak PT Sapta Unggul, Rudy Chandra mengatakan bahwa pekerjaan di Nupabomba – Kebun kopi – Toboli II akan selesai tepat waktu sesuai dengan batas waktu Kontrak, kata Rudy Di ruang kerjanya.

Toboli – Ampibabo 2014, Diperiksa
Proyek Pelebaran Jalan ruas Toboli – Ampibabo yang menggunakan dana APBN tahun 2014 diduga tengah diendus oleh pihak kejaksaan Tinggi Sulawesi Tengah. Pelaksana hajatan pekerjaan ruas yang berbandrol kurang lebih Rp 33,4 Miliard adalah PT. Sapta Unggul (SU).
Dugaan atas diendusnya pekerjaan itu Diawali adanya beberapa titik di areal ruas Toboli – ampibabo yang mengalami kerusakan, kerusakan ini dikarenakan pada proses pekerjaan yang dilakukan hanya memanfaatkan material sekitar lokasi diduga tanpa melakukan uji laboratorium terlebih dahulu. Dugaan ini diperkuat dengan tidak tersedianya alat pemecah batu (Stone Crusher) di sekitar lokasi. Akibatnya, PT SU hanya memanfaatkan material sekitar lokasi yang diduga tanpa melakukan uji laboratorium terlebih dahulu, ujar sumber yang minta jatidirinya Tidak dikorankan.
Rudy Chandra, Selaku Pemilik PT Sapta Unggul yang dikonfirmasi Belum Lama Ini dikantornya Membantah Keras atas apa yang dipersoalkan pada pekerjaan 2014 untuk ruas Toboli – Ampibabo.
“ Tidak ada sedikitpun pelanggaran yang kami lakukan, saya siap diperiksa oleh Kejaksaan, Karena kami juga memiliki data data pendukung atas material apa saja yang kami gunakan, semuanya sudah sesuai dengan standart yang ditentukan”, Sambil Mengulang bahwa “ Saya Siap Diperiksa” Kata Rudy.
Hasil pekerjaan yang ada sekarang mulai nampak beberapa titik Badan jalan yang mengalami kerusakan bahkan berlubang. Dan belum lama ini, kerusakan kerusakan yang terjadi telah diperbaiki, apakah diperbaiki melalui anggaran rutin pemeliharaan swakelola atau masih dalam tahap pemeliharaan pekerjaan yang dilakukan oleh pelaksana, Ujar Eko Arianto, Direktur LSM Tegak Sulteng.
Jika memang ada indikasi serta kejanggalan dalam pekerjaan proyek Pelebaran Jalan Toboli – Ampibabo 2014 yang informasinya sedang diendus oleh pihak kejaksaan, maka pihak kami sangat berharap agar benar benar dilakukan pemeriksaan secara cermat dan bisa memberikan hasil yang sesuai, jika memang terjadi pelanggaran serta adanya kerugian yang ditimbulkan , maka pihak kejaksaan harus memberikan tindakan Tegas, jelas Eko.


Kebun Kopi,  Menguap?
Proyek Kebun Kopi Yang di anggarkan Lewat APBN murni menuai sorotan tajam, Pasalnya proyek yang turun di ruas Tawaeli- Nupabomba – Kebun Kopi – Toboli selama kurun waktu 4 Tahun Terakhir ini Diduga Dimonopoli.
Kontrak kontrak yang terjadi di tahun 2013, 5 kontrak yang terjadi di tahun itu juga diduga pada proses finishingnya bermasalah, Desa Nupabomba-Toboli itu dihelat oleh PT Sapta Unggul (Rudy Chandra) dengan Rp23,4 miliar lebih, PT Suburo Jayana Indah Corp (Sujainco – Di pinjam Oleh Rudy Chandra)  dengan nilai Rp23,4 miliar lebih, PT Kurnia Graha Mandiri (KGM) asal Makassar memenangi Rp22,7 miliar lebih, PT Langgeng Jo Firman Anugerah ( Dipakai oleh Dede Sakkung) dengan nilai kontrak Rp18,6 miliar lebih dan PT Anugerah Jaya Konstruksi (AJK) Asal palu dengan nilai kontrak Rp22,2 miliar lebih.
Dugaan bermasalahnya proses finishing pekerjaan ditahun 2013 itu dikarenakan pihak pengguna pada waktu belum membayarkan sisa pekerjaan yang sudah berakhir masa kontraknya. Padahal proses administrasi baik denda keterlambatan hingga perpanjangan waktu sesuai aturan perpres 54 thn 2010 dan aturan lainnya sudah dipenuhi oleh pelaksana, namun anehnya pembayaran itu dilakukan pada tahun berikutnya (2014-red), ujar Eko arianto Direktur TEGAK SULTENG kepada Mandala Post.
Eko menjelaskan bahwa Jika kita tilik, bila memang anggaran dinyatakan kembali pada kas negara, berarti seharusnya perusahaan perusahaan pemenang hajatan ruas Kebun Kopi 2013 tersebut sepantasnya dinyatakan putus kontrak. Sebab, jika memang anggaran kembali ke kas negara, maka PJN II Sulteng tidak mempunyai pos anggaran lain untuk membayar ‘tunggakan’ kepada para rekanan itu lagi. Lantas ada apa sebenarnya dengan proyek proyek itu.
Seiring berjalannya kontrak kontrak pekerjaan pada tahun 2014, pihak pihak pelaksana yang mengerjakan ruas Nupabomba – toboli semakin gelisah atas sisa dana yang belum terbayarkan atas kontrak kerja di 5 titik pekerjaan.
 Belum Terbayarkan pekerjaan yang dikontrakkan di tahun 2013 itu memunculkan spekulasi pertanyaan, mulai dari dugaan konspirasi, putus kontrak bahkan black list mulai mengemuka, Jelas Eko.
 Eko Menambahkan, jika anggaran sebuah proyek dinyatakan kembali ke kas negara, maka seharusnya sudah ada pemberlakuan pemutusan kontrak dan ganjaran black list terhadap pelaksana.
“Sesuai aturan yang saya ketahui, jika dana proyek sampai kembali ke kas negara, maka seharusnya terjadi pemutusan kontrak, dan rekanan diganjar dengan black list,”Jelasnya.
Meskipun hal tersebut tetap dibayarkan di tahun berikutnya, seharusnya ini menjadi tolak ukur, ada apa sebenarnya, bahkan di tahun tahun berikutnya, beberapa perusahaan yang mengerjakan proyek 2013 itu kembali mendapatkan kontrak kontrak pekerjaan, Tambah Eko.
Pihak PT Sapta Unggul saja ketika mengerjakan proyek 2013 lalu, masih memiliki sisa anggaran yang belum dibayarkan sebesar 8 persen, dan baru diselesaikan di penghujung tahun anggaran 2014.
Muhammad Syukur mantan Kasatker PJN II Sulawesi Tengah sewaktu proyek ini dikontrakkan yang hendak di konfirmasi tidak berhasil, karena no ponsel yang dituju tidak Aktif, Begitupun Dengan Irene Karim, ST mantan PPK proyek kebun kopi 2013 yang dihubungi melalui telepon selular juga tidak aktif.
Wartawan/Editor : Randhy Budiman

Tentang editor sultengaktual

Masukkan riwayat atau sejarah website atau media ini, atau keterangan media ini-----
«
Lanjut
Posting Lebih Baru
»
Sebelum
Posting Lama