Pilih Menu

Banner Kop

Banner Kop

Slider

KOTA

SULTENG

POLITIK

HUKUM

SENGGANG

SULAWESI

EDUKASI

» » » » PLTU Mpanau Didemo
«
Lanjut
Posting Lebih Baru
»
Sebelum
Posting Lama

PALU - Puluhan warga Kelurahan Mpanau Kecamatan Tavaili mendatangi kantor Wali Kota Palu, meminta agar aktivitas Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Kelurahan itu segera ditutup.

Tuntutan yang dilayangkan warga Mpanau itu, di wilayah tersebut telah terjadi pencemaran lingkungan yang diakibatkan dari aktivitas PLTU yang limbahnya tidak terkelola dengan baik. Warga meminta, agar Pemerintah Kota (Pemkot) Palu segera mengambil langkah tegas.

Sekitar pukul 11.30 Wita puluhan masa yang tergabung dalam Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) revolusi hijau dan LPM masyarakat Kelurahan Mpanau menggelar aksi demontrasi di depan kantor Wali Kota Palu. Aksi itu juga dibantu dari pihak mahasiswa.

Unjukras menuntut pihak PLTU itu sebagai aksi damai. Aspirasi yang disuarakan warga Mpanau itu langsung direspon Pemerintah Kota. Saat itu, Waki Wali Kota Sigit Purnomo langsung menemui warga dan mengajak berdialog.

Dialog pun teradi di ruang Kerja Plt Sekkot Palu, sejumlah perwakilan pengunjukrasa dipersipahkan bertemu langsung Wakil Wali Kota menyampaikan keluhannya. Dalam mediasi itu, Warga Mpanau meminta kepada Pemkot agar segera menutup dan memindahkan PLTU ketempat lain, karena aktivitas perusahaan pembangkit listrik itu dinilai telah mencelakakan warga.

Ketua LPM Mpanau sekaligus koordinator aksi, Sahrugair Sugowo, mengemukakan, setelah pihaknya mendapat penjelasan dari tim ahli yang melakukan riset diwilayah PLTU, bawasanya debu yang dihasilkan dari sisa pembakaran batu bara mengandung zat kimia beracun.

Sehingga hal itu, menurutnya, tidak ada tawar menawar aktivitas PLTU harus dihentikan, karena dinilai telah merusak ekosistem lingkungan. Dari beberapa kasus beber Sahrugair, ditemukan dua pengawas PLTU yang juga merupakan warga Mpanau terkontaminasi racun dari limbah batu bara.

Dimana, dua pengaw s itu langsung dilarikan ke-Rumah Sakit. Dari hasil diagnosa tutur Sahrugair, kedua korban tersebut telah mengalami kehilangan kesadaran lalu meninggal dunia.

"Sehingga ini tidak ada tawar menawar sebab ini persoalan nyawa, aktivitas PLTU harus dihentikan," tegas Sahrugair, Selasa (1/11).

"Baru baru ini dua pengawas di PLTU yang juga warga Mpanau meninggal dunia karena terkena dampak dari limbah PLTU. Setelah di otopsi dokter mengaku bingung karena semua organ tubuh normal dampaknya langsung menyerang saraf otak, waktu itu saya langsung mengantar korban ke Rumah Sakit," jelasnya.

Sahrugair mengaku, pihaknya kembali melakukan aksi demontrasi ke-pihak PLTU Mpanau satu bulan berikutnya usai unjukrasa yang digelar didepan Kantor Wali Kota Palu.

Menaggapi keluhan tersebut, Wakil Wali Kota Sigit Purnomo, akan melakukan langkah langkah pengumpulan data kepada pihak PLTU Mpanau.

Bahkan, Sigit Purnomo Alias Pasha, mengaku, akan mengudang langsung pihak PLTU menanyakan dampak yang ditimbulkan dari dari aktivitas terebut.

"Tentu langkah langkah ini membutuhkan proses, sehingga warga Mpanau sedikit bersabar. Saya juga akan melakukan peni jauan langsung kelokasi," ujarnya.

Dipenghujung dialog itu, pengunjukrasa memberikan dokumen laporan serta bendera berwarna kuning bertuliskan lambang tengkorak sebagai simbol sakratul maut kepada Wakil Wali Kots Palu.

Usai bertemu Wakil Wali Kota, para pengunjukrasa langsung membubarkan diri dengan tertib. WN

Tentang editor sultengaktual

Masukkan riwayat atau sejarah website atau media ini, atau keterangan media ini-----
«
Lanjut
Posting Lebih Baru
»
Sebelum
Posting Lama