Pilih Menu

Banner Kop

Banner Kop

Slider

KOTA

SULTENG

POLITIK

HUKUM

SULAWESI

EDUKASI

» » » » Limbah Beracun dari RSUD Anuntaloko
«
Lanjut
Posting Lebih Baru
»
Sebelum
Posting Lama

Sampah medis milik RSUD Anuntaloko yang ditemukan berserakan di TPAS Jononunu. Foto : Dadank
PARIMO- Sampah medis asal Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Anuntaloko Parigi, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo) ditemukan berserakan di Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Desa Jononunu Kecamatan Parigi Tengah. Parahnya, tumpukan suntik lengkap dengan jarum, kantong darah, kemasan infus, selang kateter dan limbah lainnya terlihat dalam tumpukan sampah di TPAS tersebut. Padahal, limbah-limbah tersebut masuk kategori Bahan Berbahaya dan Beracun (B3).
Padahal, sebelumnya pihak RSUD Anuntaloko Parigi telah menyatakan bahwa tidak membuang sampah berbahaya di TPAS Jononunu. Pihak RSUD Anuntaloko menyebutkan hanya membuang sampah non medis ke TPAS.
Penelusuran media ini di TPAS Jononunu terlihat sejumlah tumpukan sampah medis asal RSUD Anuntaloko.
Penuturan sejumlah warga yang enggan namanya dimediakan, sampah medis tersebut kadang diangkut menggunakan mobil pengangkut sampah kas terbuka yang menyebarkan bau busuk saat melintas di pemukiman warga.
“Malah pernah kami dapatkan mereka membuang sampah dengan cara menimbun, kami sempat tegur kenapa tidak dibakar. Tapi tidak dijawab. Sejak saat itu tidak pernah lagi mereka melakukan penimbunan sampah dari rumah sakit,” ungkap sumber.
Warga juga khawatiran, hewan ternak mereka kadang masuk ke dalam lokasi TPAS untuk mencari makan. Bila sampah medis turut dibuang ke TPAS dikhawatirkan bisa memicu penyakit ke ternak mereka.
Selain itu pemulung sampah yang masuk ke TPAS pun juga bisa terancam tertulari penyakit asal buangan sampah medis RSUD Anuntaloko.
“Instansi terkait harus turun mengecek sendiri, memberikan teguran ke pihak RSUD Anuntaloko, karena praktik ini sudah berlangsung lama,” sebut sumber.
Terkait itu, Direktur RSUD Anuntaloko Nurlela Harate yang dikonfirmasi pada Kamis 2 Mei 2016 mengatakan, semua sampah medis yang dibuang di TPAS Jononunu sudah sesuai dengan standar prosedur.
Ia menjelaskan, sebelum dibawa dan dibuang ke TPAS pihaknya terlebih dahulu menghancurkan sampah medis tersebut.
“Jadi ada prosesdurnya, kita pilah dahulu, setelah itu diambil langkah penghancuran agar tidak ada yang menyalahgunakan saat tiba di TPAS,” katanya.
Sampah medis yang dibuang ke TPAS itu, menurut Nurlela, tidak satupun yang bersifat infeksius, lain halnya dengan jarum atau alat tajam lainnya yang diyakini telah terinfeksi jenis penyakit tertentu.
Sehingga ia menjamin, kondisi tersebut tidak akan menginfeksi warga sekitar, hanya saja pihaknya tetap akan berusaha untuk kedepannya membenahi sistim pembuangan sampah medis mereka ke TPAS.
“Sampah medis di TPAS itu aman, telah melalui proses pemilahan,” tuturnya.
Namun ia sempat terkejut melihat sejumlah rekaman dan foto dari wartawan yang memperlihatkan sejumlah botol obat, kantong darah dan botol infus masih dalam kondisi utuh padahal, seharusnya semua sampah medis tersebut sudah dalam kondisi hancur.
Kepada sejumlah wartawan Nurlela mengaku segera menindaklanjuti untuk menegur jajarannya agar lebih berhati-hati dalam memilah sampah medis.
“Saya sangat beterima kasih mendapatkan informasi ini, tentunya saya akan langsung tindaklanjuti dengan rapat agar jajaran saya bisa memahami dengan baik mana saja sampah medis yang layak untuk dibuang keluar,” ucapnya.
Ia berjanji, pihaknya akan lebih berhati-hati lagi kedepannya dalam penanganan sampah medis yang ada di RSUD Anuntaloko.


Belum Kantongi Izin Pengoperasian Incinerator
RSUD Anuntaloko Parigi hingga saat ini belum mengantongi izin pengoperasian mesin pembakaran dan penghancur sampah medis (incinerator).
Akibat belum dioperasikannya Incinirator tersebut, sampah medis tampak menumpuk hingga tumpah ruah di luar tempat penampungan di RSUD Anuntaloko. Padahal Incinerator RSUD Anuntaloko sendiri diadakan sejak tahun 2015.
Kondisi tersebut telah melanggar peraturan pengelolaan limbah Rumah Sakit yang diatur dalam Peraturan Menkes No 986/Menkes/Per/XI/ 1992 dan Keputusan Dirjen P2M PLP No HK.00.06.6.44, tentang petunjuk teknis Penyehatan Lingkungan Rumah Sakit.
Kasubag Kepegawaiaan dan Umum RSUD Anuntaloko, Anwar yang dikonfirmasi mengakui kalau RSUD Anuntaloko hingga saat ini belum memiliki izin dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk mengoperasikan Incinerator.
“Sampah medis menumpuk akibat kita belum mengantongi izin pengoperasian incinerator, sementara dalam pengurusan, saya belum bisa memastikan kapan izin tersebut akan dikeluarkan,” jelasnya.
Sebelumnya kata dia, sampah medis dari RSUD Anuntaloko dikirim ke Makassar setiap enam bulan untuk diolah, tapi untuk saat ini sudah tidak lagi bekerjasama.
Untuk sementara pihaknya bekerjasama dengan Dinas PU untuk mengangkut sampah non medis saja, sementara sampah medis dipilah dan ditampung.
“Untuk mengantisipasi persoalan ini, kami sudah bersurat kepada pihak ketiga, mereka berencana melihat dulu kondisi limbah medis disini kalau memenuhi syarat dari mereka maka akan diangkut. Pada intinya pihak ketiga mau bekerjasama kalau sampah medis itu banyak,” tuturnya.
Umumnya kata dia, pihak ketiga akan mengambil sampah medis yang ada di RSUD Anuntaloko juga per enam bulan.
Ia beralasan, hingga saat ini sampah medis mereka belum terlalu banyak karena pasien di RSUD Anuntaloko per bulannya tidak banyak.
“Kita tidak seperti RS Anutapura dan RS Undata, sudah banyak limbah medisnya karena pasiennya juga banyak,” kilahnya.
Padahal diketahui, RSUD Anuntaloko ditahun 2016 sedang mengejar akreditas dari tipe C menuju tipe B yang notabene harus memenuhi syarat termasuk memiliki Incinerator dalam mengolah sampah medis.
Ia juga beralasan, sejak adanya Incinerator yang tidak dioperasikan tersebut pihaknya sudah tidak lagi bekerjasama dengan pihak ketiga, selain itu sudah TPAS di Desa Jononunu.
Anwar juga mengatakan, tidak masalah pembuangan dilakukan ke TPAS yang dilarang itu adalah dibuang keluar begitu saja.
“Jadi saya pikir tidak masalah pak, khusus untuk limbah cair kami sudah mengantongi Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL),” ujarnya.
Ia mengaku, saat ini sampah-sampah tersebut tersusun dengan rapi karena mereka memiliki alat pemadat limbah padat, walaupun kondisi yang dimaksudkannya berbanding terbalik dengan fakta yang ditemukan di lapangan.
 
Belum Sesuai Ketentuan Perundang-Undangan
Instalasi pengelohan limbah (Ipal) RSUD Anuntaloko Parigi, Kabupaten Parimo dianggap belum sesuai ketentuan perundang-undangan. Khususnya UU nomor 32 tahun 2009. Padahal, ancaman dalam undang-undang itu sangat jelas.
Yaitu; pertama; Setiap orang yang dengan sengaja melakukan perbuatan yang mengakibatkan dilampauinya baku mutu udara ambien, baku mutu air, baku mutu air laut, atau kriteria baku kerusakan lingkungan hidup, dipidana dengan pidana penjara paling singkat tiga tahun dan paling lama sepuluh tahun dan denda paling sedikit Rp3 miliar dan paling banyak Rp10 miliar.
Kedua; Apabila perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan orang luka dan/atau bahaya kesehatan manusia, dipidana dengan pidana penjara paling singkat empat tahun dan  paling lama 12 tahun dan denda paling sedikit Rp4 miliar dan paling banyak Rp12 miliar.
Sementara sesuai dengan undang-undang Republik Indonesia nomor 36 tahun 2009 Tentang Kesehatan Lingkungan disebut pada pasal 162 upaya kesehatan lingkungan ditujukan untuk mewujudkan kualitas lingkungan yang sehat, baik fisik, kimia, biologi, maupun sosial yang memungkinkan setiap orang mencapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.
Sesuai Pasal 163; (1) Pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat menjamin ketersediaan lingkungan yang sehat dan tidak mempunyai risiko buruk bagi kesehatan. (2) Lingkungan sehat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mencakup lingkungan permukiman, tempat kerja, tempat rekreasi, serta tempat dan fasilitas umum. (3) Lingkungan sehat sebagaimana dimaksud pada ayat (2) bebas dari unsur-unsur yang menimbulkan gangguan kesehatan.  (4) Ketentuan mengenai standar baku mutu kesehatan lingkungan dan proses pengolahan limbah sebagaimana dimaksud pada ayat (2), dan ayat (3), ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.
Hal lain menjadi alas hukum yang sering dilalaikan rumah sakit swasta dan pemerintah yaitu UU No 18 Tahun 2008 tentang pengelolaan sampah; pertama; Pengelolaan sampah yang melawan hukum dan dengan sengaja melakukan kegiatan pengelolaan sampah dengan tidak memperhatikan norma, standar, prosedur, atau kriteria ayang mengakibatkan gangguan kesehatan masyarakat masyarakat, gangguan keamanan, pencemaran lingkungan, dan atau kerusakan lingkungan diancam dengan pidana penjara paling singkat 4 tahun dan paling lama 10 tahun dan denda paling sedikit 100 juta dan paling banyak 5 miliar.
Kedua; Jika tindak pidana yang dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan orang mati atau luka berat, pengelola sampah diancam dengan pidana penjara paling singkat 5 tahun dan paling lama 15 tahun dan denda paling sedikit 100 juta dan paling banyak 5 miliar.

Karakteristik Limbah Rumah Sakit
Sampah dan limbah rumah sakit adalah semua sampah dan limbah yang dihasilkan oleh kegiatan rumah sakit dan kegiatan penunjang lainnya. Apabila dibanding dengan kegiatan instansi lain, maka dapat dikatakan bahwa jenis sampah dan limbah rumah sakit dapat dikategorikan kompleks. Secara umum sampah dan limbah rumah sakit dibagi dalam dua kelompok besar, yaitu sampah atau limbah medis dan non medis baik padat maupun cair.
Limbah medis adalah yang berasal dari pelayanan medis, perawatan, gigi, veterinari, farmasi atau sejenis, pengobatan, perawatan, penelitian atau pendidikan yang menggunakan bahan-bahan beracun, infeksius berbahaya atau bisa membahayakan kecuali jika dilakukan pengamanan tertentu. Bentuk limbah medis bermacam-macam dan berdasarkan potensi yang terkandung di dalamnya dapat dikelompokkan sebagai berikut, yakni limbah benda tajam, limbah infeksius, limbah jaringan tubuh, limbah sitotoksik, limbah farmasi, limbah kimia, limbah radioaktif limbah plastik.
Sedangkan sampah non medis ini bisa berasal dari kantor/administrasi kertas, unit pelayanan (berupa karton, kaleng, botol), sampah dari ruang  pasien, sisa makanan buangan; sampah dapur (sisa pembungkus, sisa makanan/bahan makanan, sayur dan lain-lain). Limbah cair yang dihasilkan rumah sakit mempunyai karakteristik tertentu baik fisik, kimia dan biologi. Limbah rumah sakit bisa mengandung bermacam-macam mikroorganisme, tergantung pada jenis rumah sakit, tingkat pengolahan yang dilakukan sebelum dibuang dan jenis sarana yang ada (laboratorium, klinik dll).
Limbah cair rumah sakit dapat mengandung bahan organik dan anorganik yang umumnya diukur dan parameter BOD, COD, TSS, dan lain-lain. Sedangkan limbah padat rumah sakit terdiri atas sampah mudah membusuk, sampah mudah terbakar, dan lain-lain.
Limbah rumah sakit pun terdiri dari beberapa jenis, di antaranya limbah benda tajam. Limbah ini adalah obyek atau alat yang memiliki sudut tajam, sisi, ujung atau bagian menonjol yang dapat memotong atau menusuk kulit seperti jarum hipodermik, perlengkapan intravena, pipet pasteur, pecahan gelas, pisau bedah. Semua benda tajam ini memiliki potensi bahaya dan dapat menyebabkan cedera melalui sobekan atau tusukan.
Limbah infeksius, limbah yang berkaitan dengan pasien yang memerlukan isolasi penyakit menular (perawatan intensif), dan limbah laboratorium yang berkaitan dengan pemeriksaan mikrobiologi dari poliklinik dan ruang perawatan/isolasi penyakit menular.
Selanjutnya, limbah jaringan tubuh meliputi organ, anggota badan, darah dan cairan tubuh, biasanya dihasilkan pada saat pembedahan atau otopsi.
Kemudian limbah sitotoksik, adalah bahan yang terkontaminasi atau mungkin terkontaminasi dengan obat sitotoksik selama peracikan, pengangkutan atau tindakan terapi sitotoksik.
Selain itu limbah farmasi ini dapat berasal dari obat-obat kadaluwarsa, obat-obat yang terbuang karena batch yang tidak memenuhi spesifikasi atau kemasan yang terkontaminasi.
Berikutnya limbah kimia, adalah limbah yang dihasilkan dari penggunaan bahan kimia dalam tindakan medis, veterinari, laboratorium, proses sterilisasi, dan riset. Dan limbah radioaktif adalah bahan yang terkontaminasi dengan radio isotop yang berasal dari penggunaan medis atau riset radio nukleida. Limbah ini dapat berasal dari antara lain, tindakan kedokteran nuklir, radio-imunoassay dan bakteriologis; dapat berbentuk padat, cair atau gas.
Dari semua jenis dan dampak yang di sebutkan di atas bisa dibayangkan bila limbah-limbah itu tidak ditangani dengan benar. Mungkin akan bisa berakibat fatal bagi lingkungan dan juga makhluk hidup lain.
Pengaruh Limbah RS Terhadap Lingkungan dan Kesehatan
Pengaruh limbah rumah sakit terhadap kualitas lingkungan dan kesehatan dapat menimbulkan berbagai masalah seperti gangguan kenyamanan dan estetika, berupa warna yang berasal dari sedimen, larutan, bau phenol, eutrofikasi dan rasa dari bahan kimia organik. Kerusakan harta benda dapat disebabkan oleh garam-garam yang terlarut (korosif, karat), air yang berlumpur dan sebagainya yang dapat menurunkan kualitas bangunan di sekitar rumah sakit. Gangguan/kerusakan tanaman dan binatang  dapat disebabkan oleh virus, senyawa nitrat, bahan kimia, pestisida, logam nutrien tertentu dan fosfor. Gangguan terhadap kesehatan manusia dapat disebabkan oleh  berbagai jenis bakteri, virus, senyawa-senyawa kimia, pestisida, serta logam seperti Hg, Pb, dan Cd yang berasal dari bagian kedokteran gigi. Dan Gangguan genetik dan reproduksi
Meskipun mekanisme gangguan belum sepenuhnya diketahui secara pasti, namun beberapa senyawa dapat menyebabkan gangguan atau kerusakan genetik dan sistem reproduksi manusia misalnya pestisida, bahan radioaktif. dd

Tentang editor sultengaktual

Masukkan riwayat atau sejarah website atau media ini, atau keterangan media ini-----
«
Lanjut
Posting Lebih Baru
»
Sebelum
Posting Lama