Pilih Menu

Banner Kop

Banner Kop

Slider

KOTA

SULTENG

POLITIK

HUKUM

SULAWESI

EDUKASI

» » » Kasus JUT Desa Olaya, Tim PHO Akui Berspekulasi
«
Lanjut
Posting Lebih Baru
»
Sebelum
Posting Lama

Kondisi JUT Desa Olaya yang terbengkalai
Penegak Hukum Didesak Bertindak
Parimo- Terbengkalainya pekerjaan Jalan Usaha Tani (JUT) di Desa Olaya Kecamatan Parigi Kabupaten Parigi Moutong (Parimo) diduga kuat juga disebabkan kelalaian tim Provision Hand Over (PHO) di Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Parimo. Dugaan lalai tim tersebut terlihat dari tindakan berspekulasi, yang berani memastikan kondisi volume pekerjaan di lapangan telah mencapai 100 persen, padahal saat tim turun, gundukan material pasir batu (Sirtu) masih teronggok di lokasi.
Yardika, salah seorang anggota tim PHO JUT Desa Olaya kepada sejumlah wartawan mengaku tidak mengetahui kalau pekerjaan JUT Desa Olaya terjadi masalah. Katanya, ia tidak menyangka kalau pada pekerjaan itu terjadi pengurangan volume.
Menurut Yardika, sebelum dilakukan PHO, tim telah turun melakukan survei di lapangan. Dan pada saat survei itu kata Yardika, tim memang menemukan dua gundukan material Sirtu. Ketika dilakukan penghitungan, menurut Yardika, memang ditemukan kekurangan volume material. Namun, katanya, saat tim menyampaikan kondisi itu kepada konsultan pengawas, justru pihak pengawas menjelaskan bahwa Sirtu yang masih menggunung itu yang akan mencukupi kekurangan volume.
“Kata pihak konsultan pengawas saat itu, dua gundukan material yang ada kalau dihampar akan menutupi kekurangan volume. Artinya tidak terjadi pengurangan volume ketika dua gundukan Sirtu itu diratakan,” ungkap Yardika saat ditemui di ruang Pejabat Pelaksanan Teknis Kegiatan (PPTK) Antho Rasid.
Meski mengaku demikian, namun Yardika menolak disebut berspekulasi. Yardika justru menyebutkan kalau yang bertanggung jawab pada pekerjaan itu adalah pihak rekanan bersama konsultan pengawas.
“Kami berani melakukan PHO yang kemudian disampaikan ke Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dan selanjutnya dilakukan pengajuan untuk pencairan pembayaran, itu atas dasar survei dan lampiran hasil pengawasan oleh konsultan pengawas,” ucapnya.
Disinggung terkait pernyataan direktur CV Parsela Sejati yang mengaku mengembalikan dana pada pekerjaan tersebut, Yardika membenarkan.
Melalui PPTK, Antho Rasid menjelaskan, dana yang dikembalikan itu sekitar Rp20 jutaan. Pengembalian dana oleh CV Parsela Sejati lantaran pada badan jalan hanya dilakukan penghamparan tanpa pemadatan.
“Dana yang dikembalikan pihak rekanan itu kurang lebih Rp20 juta. pengembalian dana itu lantaran CV Parsela Sejati tidak melakukan pemadatan Sirtu pada badan jalan, mereka hanya menghampar biasa,” ungkap Antho.
Diwartakan sebelumnya, pembangunan JUT di Desa Olaya tahun anggaran 2015, kini dalam kondisi memprihatinkan. Urugan badan jalan atau material Sirtu yang harusnya mencapai 751 meter kubik, terlihat tidak tercapai.
Kondisi JUT yang dikerjakan CV Parsela Sejati, hingga saat ini tidak bermanfaat bagi petani. Pasalnya, urugan badan jalan tersebut hanya dikerjakan dikisaran 130 meter kubik. Dimana seharusnya timbunan material sesuai RAB sebanyak 751 meter kubik lebih.
Tidak hanya itu, pada paket yang menelan anggaran Rp200 juta tersebut, juga tecatat pembuatan dua plat deker atau dengan jumlah delapan gorong-gorong. Namun, terdapat satu dari dua plat deker yang ada sama sekali tidak berguna.
Satu plat deker yang saat ini tidak bermanfaat itu berada di tengah sawah, tanpa disertai urugan badan jalan.
Sementara itu direktur CV Parsela Sejati Suriyanti Day, ketika dikonfirmasi membantah kalu pekerjaannya selesai tidak sesuai volume. Katanya, ia justru merugi pada paket JUT di Desa Olaya tersebut.
“Bukan belum selesai. Memang ukuran pekerjaannya sudah sampai di situ. Malahan itu pekerjaan lebih. Saya justru mengembalikan uang ke pihak dinas,” ujar Haji Yanti ketika dihubungi via phonselnya pada Rabu 18 Mei. 

TIM PHO Lalai
Mencuatnya pekerjaan JUT di Desa Olaya yang diduga terjadi pengurangan volume material, mendapat tanggapan sejumlah pihak. Salah satunya Lembaga Himpunan Pemuda Peduli Parigi Moutong (HP3M). Melalui wakil ketua, Risnal, HP3M mendesak penegak hukum segera mengusut proyek JUT tersebut.
“Penegak hukum harus mengecek untuk memastikan kebenaran apakah proyek JUT yang ramai diberitakan di sejumlah media itu, memang bermasalah dan merugikan keuangan daerah atau tidak,” ungkap Risnal kepada sejumlah wartawan pada Selasa 24 Mei 2016.
Risnal mengatakan, proyek yang dibangun pemerintah, baik menggunakan dana APBD atau APBN tujuannya untuk kepentingan masyarakat. Namun, jika yang terjadi malah tidak bisa dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat karena dikerjakan  secara asal-asalan. Dan itu, ujar Risnal, harus dipertanggungjawabkan, baik pihak kontraktor maupun dinas yang bersangkutan.
“Yang memiliki kewenangan untuk memastikan apakah pekerjaan itu benar bermasalah adalah penegak hukum. Olehnya, atas nama HP3M saya meminta aparat melakukan check on the spot, sehingga ada kejelasan,” kata Risnal.
Ia meminta penegak hukum lebih peka terhadap permasalahan hukum dan tidak pandang bulu terhadap semua penyelewengan yang terjadi di Parimo.
“Sampai hari ini kami (HP3M) masih optimis bahwa penegak hukum masih konsisten menjalankan fungsinya dalam menuntaskan kasus-kasus yang merugikan APBD maupun APBN di daerah ini,” tekanya.dd

Tentang editor sultengaktual

Masukkan riwayat atau sejarah website atau media ini, atau keterangan media ini-----
«
Lanjut
Posting Lebih Baru
»
Sebelum
Posting Lama