Pilih Menu

Banner Kop

Banner Kop

Slider

KOTA

SULTENG

POLITIK

HUKUM

SULAWESI

EDUKASI

» » » Irigasi Jebol, Ratusan Hektar Sawah Krisis Air
«
Lanjut
Posting Lebih Baru
»
Sebelum
Posting Lama



 
Irigasi di sungai Desa Baliara yang jebol dihantam banjir pada Rabu 18 Mei. Kondisi ini menyebabkan ratusan hektar sawah di dua desa mengalami krisis air. Foto: Dadank
Galian C Diduga Pemicu Ambruknya Irigasi
Parimo- Akibat hantaman banjir, bendungan irigasi di sungai Desa Baliara, Kecamatan Parigi Barat, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), Rabu 18 Mei 2016 jebol. Akibatnya, ratusan hektar sawah di dua desa mengalami krisis air.
Pantauan, selain dinding pembendung air, tanggul pada dinding sungai tersebut juga ikut roboh. Akibatnya, sungai mengalami pendalaman. Air yang akan dialiri ke kawasan persawahan tidak lagi bisa melewati pintu air pada irigasi tersebut.
Jamil, salah seorang petani di dusun III Desa Baliara, kepada wartawan ini mengaku resah atas kondisi tersebut. Masalahnya, irigasi yang jebol itu merupakan satu-satunya sumber air untuk dialiri ke persawahan mereka.
“Dengan kondisi irigasi jebol ini, dan air tidak lagi mengalir ke sawah, kami bingung mau berbuat apa. Sawah kami sudah pasti tidak bisa lagi mendapat air, karena irigasi itu satu-satunya sumber air,” ujar Jamil yang didampingi petani lainnya.
Disebutkan Jamil, selian sawah mereka di dusun III Desa Baliara, sawah di desa lainnya yakni Desa Bambalemo Kecamatan Parigi, juga dipastikan mengalami krisis air.
“Irigasi itu menyuplai air untuk sekitar 100 hektar lebih sawah di Desa Baliara dan Desa Bambalemo. Jadi, bukan hanya sawah di dusun III Desa Baliara yang krisis air tapi juga desa Bambalemo.” Ungkapnya.
Bersama sejumlah petani lainnya, Jamil hanya bisa menaruh harapan kepada pemerintah untuk segera menyikapi kondisi tersebut. Karena menurutnya, selama irigasi itu tidak berfungsi, dipastikan sawah mereka bakal menganggur.
Sementara, sejumlah petani yang sudah terlanjur menanam padinya, dipastikan akan mengalami gagal panen.
Jamil menambahkan, jebolnya irigasi di sungai tersebut oleh banjir, silain kondisinya sudah tua, juga diduga pengaruh adanya aktifitas pengambilan material pasir batu (sirtu) alias galian C. Dimana titik galian C tersebut hanya berjarak kurang lebih 300 meter di bawah irigasi.

Pemicu Robohnya Irigasi Baliara
Robohnya irigasi di sungai Desa Baliara Parimo, diduga disebabkan aktifitas pengambilan Sirtu atau galian C. Dugaan tersebut dikemukakan warga desa tersebut.
Menurut sejumlah warga, munculnya dugaan bahwa pemicu runtuhnya irigasi tersebut adalah galian C, terlihat dari titik lokasi penggalian yang hanya berjarak sekitar 200an meter dari irigasi. Dimana menurut warga, kondisi sungai yang digali menggunakan alat berat itu saat ini semakin dalam.
“Saat ini sungai yang digali dan diambil materialnya itu kondisinya sudah semakin memprihatinkan. Kedalaman galian pada badan sungai diperkirakan telah lebih dari lima meter,” ujar Akrin, salah seorang warga Dusun III Desa Baliara, kepada media ini Kamis 19 Mei 2016.
Dijelaskan Akrin, alasan sehingga galian C tersebut diduga sebagai penyebab runtuhnya irigasi adalah pengikisan dasar sungai oleh air, karena di bagian bawah (dataran rendah) alur sungai telah terjadi pendalaman.
“Karena di bagian bawah telah terjadi pendalaman sehingga material pasir atau batu semakin mudah terbawah arus. Ditambah lagi yang menyeret material itu air dengan volume besar (banjir),” ujarnya.
Akrin menyebutkan, aktifitas galian C di sungai Baliara telah berlangsung lama. Katanya, ia bersama sejumlah warga lainnya telah menyampaikan kepada pemerintah desa agar menghentikan galian tersebut. Namun pemerintah desa tidak pernah merespon.
“Sudah ulang kali saya dan sejumlah warga menyampaikan kepada pemerintah desa, agar aktifitas galian di sungai Baliara dihentikan. Alasan kami untuk menghentikan aktifitas galian itu tidak lain demi bertahannya irigasi. Namun, hingga irigasi itu jebol, praktik galian di sungai dengan menggunakan excavator tetap berlanjut,” ungkap Akrin.
Ia menyebutkan, selain diduga menjadi pemicu robohnya irigasi, galian C di sungai Baliara juga illegal.
Terkait hal itu, kepala Desa Baliara, Iwan Hanusu ketika dikonfirmasi tidak memberi keterangan jelas. Awalnya Iwan membenarkan bahwa galian C penyebab robohnya irigasi. Namun kemudian, Iwan mengklarifikasi. Katanya lagi, bukan galian C yang membuat irigasi tersebut jebol.
“Kami tidak bisa pungkiri kalau salah satu yang membuat jebol irigasi adalah galian C,” ucap Iwan diawal wawancara saat dihubungi via phonselnya, Jumat 20 Mei 2016.
Meski telah mengakui, iwan kembali mengklarifikasi. “Kalau ada perkiraan bahwa galian C penyebab robohnya irigasi, tidak benar. Sebelum jebol, irgasi itu memang sudah rusak parah,” ucap Iwan mengklarifikasi.
Secara tegas juga Iwan mengungkapkan bahwa robohnya irigasi tersebut setidaknya patut disyukuri, sebab hal itu akan mengundang perhatian pemerintah daerah maupun pemerintah provinsi, untuk memperbaiki atau membangun baru irigasi tersebut.
Ditanya tentang izin galian C di desanya, Iwan enggan menyebutkan galian tersebut illegal. Sebab kata Iwan, ia belum bertandang ke SKPD terkait (dinas Pertambangan dan ESDM), menanyakan izin galian di sungai Baliara.
Iwan justru menyebutkan kalua galian C di Desa Baliara bukan untuk kepentingan sekelompok orang, tapi demi pembangunan di Kabupaten Parimo. Katanya, itu salah satu alasan sehingga pihak pemerintah desa membolehkan pengambilan Sirtu.
“Galian C itu untuk kepentingan pembangunan di kabupaten ini juga, itu sebabnya kami pemerintah desa mengizinkan aktifitas galian,” sebutnya.
Meski telah membolehkan aktifitas galian, namun Iwan tidak mengetahui status alat berat yang bekerja di sungai Baliara. “Kalau soal alat berat yang ada di sungai itu saya tidak tahu dari mana,” katanya.
Iwan menjelaskan, beberapa alasan juga sehingga pemerintah desa membolehkan pengambilan material Sirtu di sungai Baliara, diantaranya lantaran tidak ada lagi sungai di wilayah Parigi yang dibolehkan melakukan galian C atau pengambilan Sirtu. Selain itu, yang menunjuk sungai Baliara untuk tempat pengambilan material adalah pihak dinas Pekerjaan Umum (PU) kabupaten.
Disinggung terkait kontribusi bagi desa dari aktifitas galian illegal itu, Iwan menjelaskan bahwa desa hanya memberlakukan system pungut retribusi. “Kami dari desa hanya memungut retribusi sebesar Rp10 ribu per ret material. Dana hasil pungut itu untuk pembangunan masjid di Dusun III,” katanya.
Iwan menambahkan, saat ini pemerintah desa berencana membuat peraturan desa terkait galian C. Dan untuk saat ini, aktifitas galian C di sungai Baliara akan ditutup. dd

Tentang editor sultengaktual

Masukkan riwayat atau sejarah website atau media ini, atau keterangan media ini-----
«
Lanjut
Posting Lebih Baru
»
Sebelum
Posting Lama