Pilih Menu

Banner Kop

Banner Kop

Slider

KOTA

SULTENG

POLITIK

HUKUM

SENGGANG

SULAWESI

EDUKASI

» » Mayoritas masyarakat Kota Mematuhi KTR
«
Lanjut
Posting Lebih Baru
»
Sebelum
Posting Lama

Palu - 89 Persen pada sejumlah area di kota Palu yang telah ditetapkan aturan sebagai area kawasan tanpa rokok (KTR) telah di patuhi sesuai dengan aturan yang tertuang di dalam Perda no 3 tahun 2015. Gambaran ini disampaikan Kepala Bidang Pengendalian Masalah Kesehatan Dinkes Kota Palu, Siti Jaroh saat menutup kegiatan monitoring dan evaluasi penegasan KTR tingkat kota Palu tahun 2015 di kantor walikota Palu.
Lebih jauh di katakannya bahwa KTR adalah ruangan atau area yang dinyatakan dilarang untuk kegiatan merokok atau kegiatan memproduksi, menjual, mengiklankan atau mempromosikan produk tembakau.
Tentunya dengan adanya KTR merupakan upaya perlindungan untuk masyarakat terhadap risiko ancaman gangguan kesehatan karena lingkungan tercemar asap rokok.Penetapan Kawasan Tanpa Rokok ini perlu diselenggarakan di fasilitas pelayanan kesehatan, tempat proses belajar mengajar, tempat anak bermain, tempat ibadah, angkutanumum, tempat kerja, tempat umum  dan tempat lain yang ditetapkan,untuk melindungi masyarakat yang ada dari asap rokok.
Yang perlu di pahami bersama bahwa penetapan KTR tersebut merupakan upaya menurunkan angka kesakitan dan/atau angka kematian dengan cara mengubah perilaku masyarakat untuk hidup sehat, meningkatkan produktivitas kerja yang optimal, mewujudkan kualitas udara yang sehat dan bersih, bebas dari asap rokok, menurunkan angka perokok dan mencegah perokok pemula serta mewujudkan generasi muda yang sehat.
Selain itu KTR juga untuk melindungi masyarakat dengan memastikan bahwa tempat-tempat umum bebas asap rokok. Kawasan tanpa rokok harus menjadi norma, terdapat empat alasan kuat untuk mengembangkan kawasan tanpa rokok, yaitu untuk melindungi anak-anak dan bukan perokok dari risiko terhadap kesehatan, mencegah rasa tidak nyaman, bau dan kotoran dari ruang rokok, untuk mengembangkan opini bahwa tidak merokok adalah perilaku yang lebih normal.
Serta mengurangi secara bermakna konsumsi rokok dengan menciptakan lingkungan yang mendorong perokok untuk berhenti atau yang terus merokok untuk mengurangi konsumsi rokoknya sesuai dengan amanah yang telah tertuang di dalam Perda no 3 tahun 2015. Yusuf

Tentang editor sultengaktual

Masukkan riwayat atau sejarah website atau media ini, atau keterangan media ini-----
«
Lanjut
Posting Lebih Baru
»
Sebelum
Posting Lama